Harapan Kosong itu lebih menyakitkan daripada kenyataan yang pahit sekalipun. . .

Minggu, 24 Februari 2013

SILSILAH CANDI PANATARAN, BLITAR




Sejak semula Candi Penataran diperuntukkan sebagai media pemujaan. Informasi tertua berkenaan dengan itu didapati dalam Prasasti Palah bertarikh Saka 1119 (1197 M). Prasasti yang dikeluarkan atas perintah dari raja Kadiri terakhir, yakni Srengga (Kretajaya), berisi penetapan Desa (Thani) Palah sebagai swatantra (sima, perdikan. Status perdikan dari desa Palah berlanjut hingga masa Majapahit) bagi tempat pemujaan kepada Sira Paduka Bhattara Palah.

Sebutan “Palah” kembali dijumpai dalam kakawin Nagarakretagama (LXI/2), yang memberitakan bahwa pada tahun Saka 1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka (April - Mei) Baginda Raja [Hayam Wuruk] memuja ke Palah dengan para pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjunginya untuk menghibur hati, di Lawang Wentar, Manguri, Balitar dan Jimbe. Dari Balitar perjalanan diteruskan ke selatan hingga tiba di Lodaya, kemudian menjelajah laut menyisir pantai.  Bagian lain dari kakawin ini (pupuh XVII/5) menyatakan bahwa setiap tahun setelah musim dingin, Baginda keliling bercengkerama di Desa Sima (selatan Jalagiri, sebelah timur istana), ke Wewe Pikatan di Candi Lima. Bila tidak demikian pergi ke Palah untuk memuja Hyang Acalapati, bisa juga terus ke Balitar dan Jimur mengunjungi bukit-bukit permai. Perihal “Palah” sebagai desa perdikan (sima) juga dinyatakan dalam pipuh LXXII/2), yaitu sebagai desa perdikan para penganut Siwa. Dengan demikian, Nagarakretagama menyebut “Palah” hingga tiga kali, dan sekali menyebut “Hyang Acalapati” sebagai dewata yang dipuja di Palah.

Kunjungan Hayam Wuruk ke Palah pada tahun 1361 dan pada setiap tahun seusai musim dingin (penghujan) memberi cukup bukti bahwa Candi Palah (nama akrkhais dari Candi Penataran) tentulah menduduki tempat penting dalam kerajaan Majapahit. Kendati tidak termasuk dalam kategori dharmahaji ataupun prasada haji, namun tidak diragukan bila Penataran adalah candi nagara (candi kerajaan) Majapahit.

Prasasti Palah menyebut bahwa dewata yang dipuja di Palah adalah “Sira Paduka Bhattara Palah”. Dewata ini dapat kiranya disamakan dengan apa yang di dalam kakawin Nagarakretagama disebut “Hyang Acalapati”. Perkataan “Acalapati” terbentuk dari dua kata, yakni “acala (tak bergerak, gunung, karang)” dan “pati (penguasa, raja)”, sehingga “Acalapati” dapat diartikan ‘Raja Gunung’. Suatu pendapat menyatakan bahwa Acalapati adalah julukan bagi Dewa Siwa sebagai “Dewa Gunung”. Jika benar demikian, berarti dewata utama (istadewata) yang dipuja di Candi Palah adalah Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung atau Raja Gunung (Girindra, Girinata). Pendapat ini sejalan dengan keterangan dalam Nagarakretagama, bahwa desa perdikan Palah dihuni oleh penganut Hindu sekte Siwa. Namun pada kenyataan lain, hal itu tak tepat benar dengan keletakan arca-arca pantheon Hindu di Candi Induk Penataran, dimana pada rekonstruksi tubuh Candi Induk (halaman III), berdasarkan indikator yang berupa wahana dewa, diketahui bahwa arca Siwa tidak ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), melainkan pada salah satu relung sisi luar sebagaimana halnya dengan arca Brama. Wisnu dan para dewa penjaga penjuru mata angin (lokapala). Oleh karena hingga sejauh ini tidak diketahui dewa siapakah yang ditempatkan di garbhagreha Candi Induk Penataran, maka merujuk kepada keterangan Nagarakretagama di atas, sangat boleh jadi yang ditempatkan di dalam garbhagraha dan pada posisi sebagai istadewata adalah arca Hyang Acalapati dalam bentuk tertentu. Ada kemungkinan Acalapati adalah Dewa Penguasa Gunung Kelud, yang dapat diidentikkan dengan Siwa sebagai Dewa Perusak ataupun Dewa Gunung.

Kelud (Kampud) adalah gunung berapi yang menjadi arah pengkiblatan (orientasi) Candi Palah. Sebagai gunung berapi aktif hingga sekarang. Eksplosinya membawa petaka, utamanya di daerah Blitar, Kediri dan sebagian Malang, yang dahulu menjadi wilayah penting dari Kerajaan Majapahit. Gambaran tentang petaka yang ditimbulkan oleh Gunung Kampud dijumpai di dalam Nagarakretagama “Gemuruh suara Gunung Kampud bergetar, banyak orang-orang hina dan jahat mati tak berdaya.


Ada kemungkinan Candi Panataran adalah tempat pemujaan khusus untuk “meredam murka” Gunung Kelud, semacam media protektorik untuk memperoleh keselamatan bagi wilayah ataupun warga Majapahit. Fungsinya yang demikian itu diperkuat dengan dipilihnya cerita Ramayana dan Kresnayana, dimana keduanya menampilkan awatara Wisnu, yakni Rama dan Kresna sebagai pelakon cerita yang penting. Adapun dasar pertimbangannya adalah Dewa Wisnu adalah Dewa Pelindung atau Dewa Penyelamat. Selain tampil pada relief candi, awatara Wisnu kedapatan pula dalam bentuk arca, yaitu arca Parasu Rama, di muka Candi Angka Tahun bersama dengan sakti (istri)nya, yaitu Sri sebagai Dewi Padi. Fungsi protektorik juga diemban oleh Ganesya dalam fungsi khusus, yakni vicneswara (penolak bahaya atau penghalau rintangan). Arca Ganesya di candi ini diposisikan istimewa. Apabila umumnya pada candi Hindu Siwa, arca Ganesya ditempatkan di relung/bilik sisi belakang, maka di Candi Angka Tahun (halaman II) kompleks Penataran ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), sehingga jelas bahwa posisinya pada candi ini adalah sebagai dewa utama (istadewata).   

Candi Penataran merupakan contoh signifikan mahakarya seni rupa masa Hindu-Buddha yang inovatif dan kreatif, sehingga mampu menampilkan gaya khas. Sebagai karya seni, tepatnya seni-rupa dalam arti luas, candi adalah perwujudan ekspresi seni rupa pada suatu masa di masa lampau. Ragam ekspresi seni yang hadir di dalamnya, antara lain meliputi ekspresi: seni bangun, seni pahat, seni sastra visual dalam bertuk relief cerita, serta seni keagamaan.

Halaman Candi Penataran dibagi menjadi tiga, dengan tataran kesucian makin ke belakang semakin suci, disamping itu, elevasi tanah makin ke belakang semakin tinggi. Candi Induk yang merupakan candi utama (main temple) berada di halaman belakang yang paling suci. Apabila dibandingkan dengan lay out percandian bergaya seni Jawa Tengahan yang berpola konsentris, lay out Candi Penataran yang bergaya Jawa Timuran mengarah kepada pola diskonsentris. Pola pembagian halaman menjadi tiga bagian secara gradatif ini bersinambung ke dalam seni bangun sakral di Bali, yang juga berkatagori tiga: jaba, jaba-tengah dan jeroan.

Dalam keberadaannya sekarang, batas tiap bagian halaman Candi Pentaran masih dijumpai indikatornya, berupa sisa pagar pembatas dari tatanan bata. Pada sisi depan tiap reruntuhan gapura masing-masing pembatas halaman dijumpai sepasang arca Dwarapala, yang secara simbolik berfungsi sebagai sang penjaga, tepatnya adalah penjaga pintu (dwara = jalan, pintu, pala = penjaga) dari gangguan-gangguan yang bersifat gaib. Sayang sekali kini pagar pembatas di sisi kanan dan kiri halaman candi belum berhasil ditampakkan, lataran tertutup oleh tanah bentukan baru berupa material vulkanik Gunung Kelud. Selain itu, di sisi utara areal situs berdiri sejumah rumah permanen warga sekitar, yang menjadi kendala serius untuk perluasan halaman candi. Yang jelas, aslinya halaman kompleks Candi Penataran lebih luas daripada luas areal halaman candi sekarang. Selain itu, dalam kondisi sekarang beda elevasi tanah antara halaman II dan III tidak terlampau tampak. Seharusnya, halaman II lebih rendah lagi daripada permukaan tanah sekarang.

Bagi kepentingan studi sejarah arsitektur di Jawa dan Bali Masa Hindu-Buddha, kompleks Candi Penataran adalah contoh yang cukup lengkap. Sayang sakali bentuk utuh dari candi ini belum dapat direkonstruksikan, lantaran ada sejumlah komponen bangunan yang belum diketemukan atau telah musnah ditelan waktu karena terbuat dari bahan yang tidak tahan usia.

Ekspresi seni-pahat di kompleks Candi Penataran tampil dalam tiga katagori bentuk, yaitu berbentuk seni arca (ikonografi), relief candi dan ragam hias candi. Masing-masing katagori terjalin dengan aspek teknis pemahatan, aspek artistik, maupun kaidah-kaidah khusus yang harus dipedomani. Karya seni pahat yang dihasilkan harus dapat memuhi ketentuan sebagaimana yang telah digariskan dalam kitab-kitab pedoman pemahatan arca dan relief, sebab arca dan relief itu bukan merupakan benda profan, melainkan benda sakral yang menjadi tidak syah untuk digunakan sebagai perangkat upacara pemujaan kepada dewata bila tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Dengan demikian, seniman pahat masa lalu harus dapat menjaga keberimbangan dari dua hal, yaitu karya seni yang artistik sekaligus tidak menyimpang dari kaidah religis bagi proses dan bentuk pahatannya.

Candi Penataran yang memiliki banyak pahatan yang berupa relief cerita pada sejunlah komponen bangunan dan arca-arcanya, dengan demikian dapat dikatakan sebagai ajang ekspresi bagi susastra visual. Di antaranya adalah cerita Kresnayana yang dipahatkan di Teras II Candi Induk Penataran. Cerita ini adalah gubahan dari Mahabarata, yang pokok isinya mengingatkan kepada lokon wayang, yang berjudul “Noroyono Maling”. Dengan demikian, kedua relief cerita itu menginduk pada wiracarita asal India, yakni Ramayana dan Mahabarata. Yang lebih menarik lagi untuk dicermati dalam kaitan dengan fungsi khusus Candi Penataran sebagai media religius-magis untuk “redam murka” Gunung Kampud (nama arkhais dari Gunung Kelud) adalah kedua relief cerita yang dipahatkan di Candi Induk Penataran pada halaman III yang paling suci ini menampilkan awatara Dewa Wisnu, yaitu tokoh Kresna di dalam cerita Kresnayana dan Rama dalam cerita Ramayana. Selain itu, masih terdapat sebuah cerita asal India, yakni cerita bintarang (fable) atau lazim disebut “Cerita Tantri”, yang berinduk pada himpunan cerita Pancatantra (Tantrikamanaka). Relief ini kedapatan pada Patirthan Dalam, di belakang bawah arca-arca Dwarapala di muka Candi Induk, dan pada bidang membulat (medalion) penutup lobang-lobang ventilasi Candi Naga. Satu lagi relief yang bisa jadi indikator cerita asal India, yaitu pahatan para pendeta tengah membawa genta upacara (ghanta) pada tubuh Candi Naga di halaman ke-2 serta pahatan naga pada pelipit bawah Pendapa Teras I dan II. Pahatan ini berhubungan dengan tema cerita Samodramantana, yang berinduk pada Adaiparwa dalam wiracarita Mahabhaata. Pokok isinya berkenaan dengan air suci (tirtha). Di dalam ritus Hindu ataupun Buddhis, tirtha merupakan kelengkapan yang utama

Adapun relief cerita yang berasal dari Jawa, dan dengan demikian dapat disebut sebagai “cerita orisinal Jawa”, adalah cerita-cerita yang dipahatkan pada Pendapa Teras II Penataran di halaman I – yang kurang sakral apabila dibanding halaman II dan III, antara lain adalah rumpun cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb. Bila cerita Ramayana dan Kresnayana ditokoh oleh manusia dan awatara dewa, sementara cerita Tantri ditokohi oleh binatang yang berperilaku seperti manusia, maka cerita-cerita lokal Jawa di Pendapa Teras II ditokohi oleh manusia biasa. Jika menilik tempat pemahatannya, cerita asal India, khususnya yang menampilkan tokoh dewata, diposisikan di candi utama (induk) yang berada di halaman tersuci (halaman III).

Candi Penataran dapat dimasukkan ke dalam candi bergaya Majapahit. Salah satu cirinya adalah mempunyai pola arsitektur berundak, sebagaimana tampak pada tubuh dan kaki Candi Induk yang berteras tiga, makin ke atas semakin menjorok ke belakang, pada mana tubuh dan atap candi ditempatkan (di atas teras III). Kendati bagian atapnya belum diketemukan, lantaran telah musnah karena terbuat dari bahan yang tak tahan usia, namun diperkirakan memiliki bentuk tumpang (meru). Bangunan serupa ini didapati contohnya pada relief cerita Ramayana sisi utara. Bentuk atap meru banyak didapati pada bangunan suci (pura) di Bali. Demikian juga, pola pembagian halaman atas tiga bagian maupun tata letaknya yang diskonsentris menjadi pola umum dari bangunan pura. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penataran merupakan pola arsitektur sakral yang berpengaruh luas dan dilestarikan di Bali hingga kini dalam bentuk pura. Bahkan, fungsi khusus dari Candi Penataran sebagai media protektorik terhadap gunung berapi aktif bisa dibandingkan dengan fungsi Pura Besakih terhadap Gunung Agung.  

Ciri Majapahitan juga tampak jelas dalam relief dan arca di Candi Penataran. Pada relief cerita Ramayana tampak jelas adanya gaya wayang (lakon), gaya relief yang cukup banyak tampil di percandian masa Majapahit. Relief natarif pada masa Majapahit memiliki dua langgam, yaitu langgam kakawin, dan langgam wayang. Latar pembedanya adalah sumber cerita. Susastra berbentuk kakawin, wawacan dan tutur dijadikan acuan dalam seni pahat bergaya kakawin, sedangkan sastra lakon Mahabarata ataupun Ramayana menjadi acuan untuk seni pahat bergaya wayang.

Ciri Majapahitan juga tampak pada susastra visual yang dipahatkan dalam bentuk relief candi di Candi Penataran. Susastra berbentuk Kidung yang marak berkembang pada masa Majapahit kedapatan tampil di Pendapa Teras II, yang menampilkan cerita orisinal Jawa, seperti cerita-cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb Dengan perkataan lain, pada Candi Penataran terjadi transformasi dari susastra lisan (tutur) ataupun susastra tulis ke dalam susastra visual dalam bentuk relief candi. Fenomena transformatif semacam itu tersirat pula dalam relief cerita Ramayana dan Kresnayana di Candi Induk, yang menyiratkan adanya transformasi dari susastra tulis ke dalam lakon seni pertunjukan (wayang kulit).



Salah satu perbedaan prinsip antara percandian bergaya Jawa Tengahan dan Jawa Timuran adalah pada gaya Jawa Tengahan anasir budaya asal India mempunyai pengaruh sangat kuat ke dalam karya budaya di Masa Hindu-Buddha. Anasir budaya asing itu diadopsi ataupun diadaptasi ke dalam berbagai jenis dan bentuk ekspresi budaya. Adapun pada gaya Jawa Timuran, pengaruh India tidak lagi bepengaruh secara dominan dalam karya budaya. Sebaliknya, anasir budaya lokal Jawa tampak menyeruak, adanya susastra kidung dengan kisah yang berlatar sejarah serta lingkungan alam dan budaya Jawa, menguatnya kultus terhadap arwah nenek moyang yang diperdewa – misalnya kultus kepada Dewa Gunung (Hyang Acalapati), munculnya arsitektur berundak, dsb. Ciri-ciri demikian tampil jelas di Candi Penataran. Oleh karenanya cukup alasan untuk menyatakan bahwa candi ini adalah adalah contoh signifikan dari Javanisasi proses dalam kesenian Hindu-Buddha. Aktifitas, kreatifitas maupun upaya inovatif dari seniman pembangun Candi Penataran diperlihatkan dengan amat jelas. Kesemuanya bisa dijadikan sebagai contoh teladan tentang bagaimana penyikapan pelaku budaya terhadap pengaruh budaya asing, dan komitmennya terhadap anasir budaya asli pada sisi lain.     

* Di olah dari tulisan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar