Harapan Kosong itu lebih menyakitkan daripada kenyataan yang pahit sekalipun. . .

Minggu, 24 Februari 2013

Purworejo (Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala


Pendopo Tempoe Doeloe
Pada masa keemasan Syiwa Buddha, Purworejo  dikenal sebagai Bagelen.
Menurut sejarah, Kadipaten Bagelen diserahkan kepada Hindia-Belanda oleh pihak Kesultanan Yogyakarta setelah Perang Diponegoro berakhir. Untuk memutus jati diri  Bagelen sebagai daerah yang kuat, wilayah ini dalam kekuasaan Belanda diciutkan menjadi hanya kabupaten  dalam Karesidenan Kedu.
Belanda membangun pemukiman baru di daerah ini dan menamainya Purworejo. Saking waspada akan  perlawanan di tempat ini, Belanda menempatkan barak-barak tentara di sini, sekaligus membangun jalan raya membelah daerah ini agar lebih mudah diawasi.  Begitulah asal mula Purworejo.

Nah, sejak tiba di kabupaten Purworejo, saya diliputi perasaan damai dan tenang. Semula saya heran, di tempat yang sangat cocok untuk peristirahatan ini, kok tak ada pusat meditasi, bahkan katanya tak ada wihara, padahal saya rasa vibrasi tempat latihan yang tenang sangat mendukung di sini.
Setelah saya browsing tentang Purworejo di internet, fill damai ini tak salah. Dari hasil browsing saya tahu, Purworejo atau Bagelen merupakan pusat pengembangan agama Syiwa Buddha (Tantra) di Jawa Tengah sejak kerajaan Galuh-Tarumanegara.
Pada jaman itu, Bagelen atau Purworejo adalah tempat biksu tinggal dan bertapa. Jadi tak heran, vibrasi damai ini masih terasa hingga kini. Bahkan urat nadi kabupaten ini adalah sungai yang bernama Bagawanta, yang berasal dari kata Begawan, karena konon di sepanjang tepi sungai inilah para biksu bermukim!
Malangnya, keluarga teman dekat saya yang non Buddhis yang terpesona indahnya Dharma Guru Buddha yang saya sampaikan, hanya bisa berkata, sayang di sini tak ada wihara. Padahal gereja dan pastoran bertebaran.
Ada yang mau merintis?
Dalam pemikiran, saya mungkin punya ikatan karma dengan tempat ini pada kelahiran yang lalu.
Tercatat sejak SMU, 3 kali saya kelayapan tak jelas sampai di daerah ini. Satu kali bermalam di rumah penduduk dan mandi di permandian air panas alam beramai-ramai dengan penduduk, yang kini tak bisa kulacak keberadaannya.
Kedua, masih di bangku SMU, saya pernah masuk sampai ke tempat paling sakral Petilasan Nyai Bagelen, leluhur orang Purworejo yang dikramatkan penduduk di sini, yang mayoritas muslim kejawen. Berada di dalam petilasan yang dikramatkan itu, yang dikelilingi kuburan muslim, saya agak kaget karena isi dari ruang spesial itu, pusat dari petilasan tersebut yang dijaga juru kunci ternyata sebuah Stupa! Mungkin itu stupa perabuan Nyai Bagelen? Yang ternyata Buddhis!
Faktor kedua adanya pemikiran ikatan karma aku dengan tempat ini, tanpa rencana seminggu ini saya ‘dipaksa’ ada di Purworejo. Kalau bukan oleh karma yang harus diselesaikan, bagaimana mungkin saya ada di sini?

Pendopo Kawedanan Kutoarjo

Uniknya, konon di sini masih hidup tradisi, setelah sunatan anak yang disunat diarak keliling dengan kuda. Jadi ingat tradisi di Negara Buddhis yang juga mengarak anaknya keliling setelah menjadi samanera kecil, terinspirasi kisah Pangeran Siddharta yang meninggalkan istana? Mungkin ini alkuturasi agama pendatang dengan kebudayaan Buddhis setempat yang kuat pada era lalu.
Mau ke sana? Kalau naik bis ac Sinar Jaya dari Pulo Gadung Rp.65.000,- Jakarta – Purworejo. 10 Jam perjalanan. Bisnya sehari 2 kali jalan. Pagi jam 6, kalau sore jam 4. Letak Purworejo sekitar 2 jam dari Yogyakarta, 15 menit dari Candi Borobudur.
Berikut  kutipan dari sebuah blog tentang sejarah Purworejo/Bagelen:
Syiwa-Buddha
Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.
Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.
Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.
Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.
Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.
Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.
Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.
Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.

Pendopo Kabupaten Purworejo 1931

Masih tampak
Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.
“Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,” tuturnya.
Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.
Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.
Sumber: http: //harpin.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar