Harapan Kosong itu lebih menyakitkan daripada kenyataan yang pahit sekalipun. . .

Minggu, 24 Februari 2013

Purworejo Disebut Kota Pensiun, Mengapa Demikian...???




Apa sih makna kota pensiun. Apakah sebuah kota yang berisi kumpulan orang-orang yang sudah pensiun. Ataukah sebuah kota yang sudah lelah, sehingga perlu pensiun.

Kalau kalimat yang kedua yang dimaksud, berarti bisa juga disebut pensiunan kota. Artinya, kota ini dulu pernah aktif, pernah maju, pernah populer, pernah menjadi pusat kebudayaan, pemerintahan, perdagangan, industri, dan segala hal yang menunjukkan dinamika sebuah kota, lalu karena berbagai alasan, misalnya tidak produkstif, ditinggal penduduknya, capek, lelah, kemudian istirahat dan duduk manis di rumah menikmati sisa hari tuanya. Benarkah demikian?
Lalu, apa yang menarik dari cap seperti itu. Padahal kita tahu, pensiun identik dengan tua, renta, pasrah, dan tidak produktif. Ya, kalau kita aplikasikan dengan kondisi di lapangan tampaknya pas sekali dengan kondisi kota Purworejo saat ini.
Dari asal usul kata, Purworejo, terdiri dari kata Purwo dan Rejo. Purwo artinya pertama, dahulu, atau di depan. Rejo artinya, ramai, maju, meriah. Purworejo berarti, depan ramai, dulu ramai atau pertamanya ramai.Terjemahan bebas, adalah Purworejo itu sebuah kota yang dulu pernah ramai, atau dulu pernah pernah jaya, maju, pernah hebat. Tapi sekarang…?
Di Jawa Timur ada sebuah Taman Nasional bernama Alas Purwo yang tepatnya terletak di ujung timur Pulau Jawa, yakni di Kabupaten Banyuwangi. Bagi masyarakat sekitar, nama Alas Purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.
Bagaimana dengan Purworejo. Apakah ada peluang untuk menjadi kota keramat atau kota tua yang bisa menarik wisatawan? Mungkin saja bisa, karena di sini ada makam Kyai Sadrach, tokoh penginjil, perintis Gereja Kristen Jawa. Ini menarik karena misionaris Kristen tetapi disebut Kyai. Ada pula Syeh Imam Puro, Ulama Purworejo, Jan Toorop, pelukis Belanda, A.J.G.H. Kostermans, pakar botani Indonesia, Jendral Ahmad Yani, pahlawan revolusi, Kol. Sarwo Edi Wibowo, mertua presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Bustanul Arifin, mantan Kabulog Orde Baru, Jenderal Urip Sumoharjo, tokoh dan pendiri TNI, W.R.Soepratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” (tapi masih diperdebatkan).
Yang tidak kalah menarik adalah Bukti Geger Menjangan yang konon punya arti khusus buat orang-orang yang dilahirkan di bawah atau di kawasan bukit tersebut. Orang Purworejo dari dulu hingga sekarang dikenal sebagai orang yang teguh dalam berpendirian, tegas, tidak mau kompromi, jujur, dan bertanggung jawab. Maka, ini lagi-lagi konon, setiap pemerintahan pusat “harus” selalu ada tokoh asal Purworejo untuk menjaga moral kabinet.
Tokoh dengan ciri-ciri tersebut ada pada sosok A Yani, Sarwo Edi, Urip Sumoharjo, dan banyak lagi. Yang terakhir Endriartono Sutarto, mantan Panglima TNI yang menolak kompromi dengan SBY, mundur dari komisaris Pertamina, lalu diganti oleh mantan Kapolri Sutanto yang lebih bisa disetrir oleh penguasa.
Kembali ke soal kota pensiun, bisakah Purworejo dibuat seperti kota pensiun di luar negeri? Kata teman saya, di Italia, ada kota pensiun bernama Siena, berpenduduk sekitar 1500-2000 jiwa dengan annual growth sekitar 0,06 persen. Sebanyak 80 persen penduduknya adalah orang-orang jompo, atau orang-orang yang berusia di atas 55 tahun.
Kota ini menarik buat wisatawan yang ingin liburan summer. Kotanya bersih, aman, sejuk dan tenang. Betul-betul kota pensiun. Bagaimana dengan Purworejo? Apakah masih suka disebut kota pensiun, kota kambing atau kota gaplek?

Sumber: Dinas Pariwisata Purworejo.

SILSILAH CANDI PANATARAN, BLITAR




Sejak semula Candi Penataran diperuntukkan sebagai media pemujaan. Informasi tertua berkenaan dengan itu didapati dalam Prasasti Palah bertarikh Saka 1119 (1197 M). Prasasti yang dikeluarkan atas perintah dari raja Kadiri terakhir, yakni Srengga (Kretajaya), berisi penetapan Desa (Thani) Palah sebagai swatantra (sima, perdikan. Status perdikan dari desa Palah berlanjut hingga masa Majapahit) bagi tempat pemujaan kepada Sira Paduka Bhattara Palah.

Sebutan “Palah” kembali dijumpai dalam kakawin Nagarakretagama (LXI/2), yang memberitakan bahwa pada tahun Saka 1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka (April - Mei) Baginda Raja [Hayam Wuruk] memuja ke Palah dengan para pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjunginya untuk menghibur hati, di Lawang Wentar, Manguri, Balitar dan Jimbe. Dari Balitar perjalanan diteruskan ke selatan hingga tiba di Lodaya, kemudian menjelajah laut menyisir pantai.  Bagian lain dari kakawin ini (pupuh XVII/5) menyatakan bahwa setiap tahun setelah musim dingin, Baginda keliling bercengkerama di Desa Sima (selatan Jalagiri, sebelah timur istana), ke Wewe Pikatan di Candi Lima. Bila tidak demikian pergi ke Palah untuk memuja Hyang Acalapati, bisa juga terus ke Balitar dan Jimur mengunjungi bukit-bukit permai. Perihal “Palah” sebagai desa perdikan (sima) juga dinyatakan dalam pipuh LXXII/2), yaitu sebagai desa perdikan para penganut Siwa. Dengan demikian, Nagarakretagama menyebut “Palah” hingga tiga kali, dan sekali menyebut “Hyang Acalapati” sebagai dewata yang dipuja di Palah.

Kunjungan Hayam Wuruk ke Palah pada tahun 1361 dan pada setiap tahun seusai musim dingin (penghujan) memberi cukup bukti bahwa Candi Palah (nama akrkhais dari Candi Penataran) tentulah menduduki tempat penting dalam kerajaan Majapahit. Kendati tidak termasuk dalam kategori dharmahaji ataupun prasada haji, namun tidak diragukan bila Penataran adalah candi nagara (candi kerajaan) Majapahit.

Prasasti Palah menyebut bahwa dewata yang dipuja di Palah adalah “Sira Paduka Bhattara Palah”. Dewata ini dapat kiranya disamakan dengan apa yang di dalam kakawin Nagarakretagama disebut “Hyang Acalapati”. Perkataan “Acalapati” terbentuk dari dua kata, yakni “acala (tak bergerak, gunung, karang)” dan “pati (penguasa, raja)”, sehingga “Acalapati” dapat diartikan ‘Raja Gunung’. Suatu pendapat menyatakan bahwa Acalapati adalah julukan bagi Dewa Siwa sebagai “Dewa Gunung”. Jika benar demikian, berarti dewata utama (istadewata) yang dipuja di Candi Palah adalah Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung atau Raja Gunung (Girindra, Girinata). Pendapat ini sejalan dengan keterangan dalam Nagarakretagama, bahwa desa perdikan Palah dihuni oleh penganut Hindu sekte Siwa. Namun pada kenyataan lain, hal itu tak tepat benar dengan keletakan arca-arca pantheon Hindu di Candi Induk Penataran, dimana pada rekonstruksi tubuh Candi Induk (halaman III), berdasarkan indikator yang berupa wahana dewa, diketahui bahwa arca Siwa tidak ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), melainkan pada salah satu relung sisi luar sebagaimana halnya dengan arca Brama. Wisnu dan para dewa penjaga penjuru mata angin (lokapala). Oleh karena hingga sejauh ini tidak diketahui dewa siapakah yang ditempatkan di garbhagreha Candi Induk Penataran, maka merujuk kepada keterangan Nagarakretagama di atas, sangat boleh jadi yang ditempatkan di dalam garbhagraha dan pada posisi sebagai istadewata adalah arca Hyang Acalapati dalam bentuk tertentu. Ada kemungkinan Acalapati adalah Dewa Penguasa Gunung Kelud, yang dapat diidentikkan dengan Siwa sebagai Dewa Perusak ataupun Dewa Gunung.

Kelud (Kampud) adalah gunung berapi yang menjadi arah pengkiblatan (orientasi) Candi Palah. Sebagai gunung berapi aktif hingga sekarang. Eksplosinya membawa petaka, utamanya di daerah Blitar, Kediri dan sebagian Malang, yang dahulu menjadi wilayah penting dari Kerajaan Majapahit. Gambaran tentang petaka yang ditimbulkan oleh Gunung Kampud dijumpai di dalam Nagarakretagama “Gemuruh suara Gunung Kampud bergetar, banyak orang-orang hina dan jahat mati tak berdaya.


Ada kemungkinan Candi Panataran adalah tempat pemujaan khusus untuk “meredam murka” Gunung Kelud, semacam media protektorik untuk memperoleh keselamatan bagi wilayah ataupun warga Majapahit. Fungsinya yang demikian itu diperkuat dengan dipilihnya cerita Ramayana dan Kresnayana, dimana keduanya menampilkan awatara Wisnu, yakni Rama dan Kresna sebagai pelakon cerita yang penting. Adapun dasar pertimbangannya adalah Dewa Wisnu adalah Dewa Pelindung atau Dewa Penyelamat. Selain tampil pada relief candi, awatara Wisnu kedapatan pula dalam bentuk arca, yaitu arca Parasu Rama, di muka Candi Angka Tahun bersama dengan sakti (istri)nya, yaitu Sri sebagai Dewi Padi. Fungsi protektorik juga diemban oleh Ganesya dalam fungsi khusus, yakni vicneswara (penolak bahaya atau penghalau rintangan). Arca Ganesya di candi ini diposisikan istimewa. Apabila umumnya pada candi Hindu Siwa, arca Ganesya ditempatkan di relung/bilik sisi belakang, maka di Candi Angka Tahun (halaman II) kompleks Penataran ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), sehingga jelas bahwa posisinya pada candi ini adalah sebagai dewa utama (istadewata).   

Candi Penataran merupakan contoh signifikan mahakarya seni rupa masa Hindu-Buddha yang inovatif dan kreatif, sehingga mampu menampilkan gaya khas. Sebagai karya seni, tepatnya seni-rupa dalam arti luas, candi adalah perwujudan ekspresi seni rupa pada suatu masa di masa lampau. Ragam ekspresi seni yang hadir di dalamnya, antara lain meliputi ekspresi: seni bangun, seni pahat, seni sastra visual dalam bertuk relief cerita, serta seni keagamaan.

Halaman Candi Penataran dibagi menjadi tiga, dengan tataran kesucian makin ke belakang semakin suci, disamping itu, elevasi tanah makin ke belakang semakin tinggi. Candi Induk yang merupakan candi utama (main temple) berada di halaman belakang yang paling suci. Apabila dibandingkan dengan lay out percandian bergaya seni Jawa Tengahan yang berpola konsentris, lay out Candi Penataran yang bergaya Jawa Timuran mengarah kepada pola diskonsentris. Pola pembagian halaman menjadi tiga bagian secara gradatif ini bersinambung ke dalam seni bangun sakral di Bali, yang juga berkatagori tiga: jaba, jaba-tengah dan jeroan.

Dalam keberadaannya sekarang, batas tiap bagian halaman Candi Pentaran masih dijumpai indikatornya, berupa sisa pagar pembatas dari tatanan bata. Pada sisi depan tiap reruntuhan gapura masing-masing pembatas halaman dijumpai sepasang arca Dwarapala, yang secara simbolik berfungsi sebagai sang penjaga, tepatnya adalah penjaga pintu (dwara = jalan, pintu, pala = penjaga) dari gangguan-gangguan yang bersifat gaib. Sayang sekali kini pagar pembatas di sisi kanan dan kiri halaman candi belum berhasil ditampakkan, lataran tertutup oleh tanah bentukan baru berupa material vulkanik Gunung Kelud. Selain itu, di sisi utara areal situs berdiri sejumah rumah permanen warga sekitar, yang menjadi kendala serius untuk perluasan halaman candi. Yang jelas, aslinya halaman kompleks Candi Penataran lebih luas daripada luas areal halaman candi sekarang. Selain itu, dalam kondisi sekarang beda elevasi tanah antara halaman II dan III tidak terlampau tampak. Seharusnya, halaman II lebih rendah lagi daripada permukaan tanah sekarang.

Bagi kepentingan studi sejarah arsitektur di Jawa dan Bali Masa Hindu-Buddha, kompleks Candi Penataran adalah contoh yang cukup lengkap. Sayang sakali bentuk utuh dari candi ini belum dapat direkonstruksikan, lantaran ada sejumlah komponen bangunan yang belum diketemukan atau telah musnah ditelan waktu karena terbuat dari bahan yang tidak tahan usia.

Ekspresi seni-pahat di kompleks Candi Penataran tampil dalam tiga katagori bentuk, yaitu berbentuk seni arca (ikonografi), relief candi dan ragam hias candi. Masing-masing katagori terjalin dengan aspek teknis pemahatan, aspek artistik, maupun kaidah-kaidah khusus yang harus dipedomani. Karya seni pahat yang dihasilkan harus dapat memuhi ketentuan sebagaimana yang telah digariskan dalam kitab-kitab pedoman pemahatan arca dan relief, sebab arca dan relief itu bukan merupakan benda profan, melainkan benda sakral yang menjadi tidak syah untuk digunakan sebagai perangkat upacara pemujaan kepada dewata bila tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Dengan demikian, seniman pahat masa lalu harus dapat menjaga keberimbangan dari dua hal, yaitu karya seni yang artistik sekaligus tidak menyimpang dari kaidah religis bagi proses dan bentuk pahatannya.

Candi Penataran yang memiliki banyak pahatan yang berupa relief cerita pada sejunlah komponen bangunan dan arca-arcanya, dengan demikian dapat dikatakan sebagai ajang ekspresi bagi susastra visual. Di antaranya adalah cerita Kresnayana yang dipahatkan di Teras II Candi Induk Penataran. Cerita ini adalah gubahan dari Mahabarata, yang pokok isinya mengingatkan kepada lokon wayang, yang berjudul “Noroyono Maling”. Dengan demikian, kedua relief cerita itu menginduk pada wiracarita asal India, yakni Ramayana dan Mahabarata. Yang lebih menarik lagi untuk dicermati dalam kaitan dengan fungsi khusus Candi Penataran sebagai media religius-magis untuk “redam murka” Gunung Kampud (nama arkhais dari Gunung Kelud) adalah kedua relief cerita yang dipahatkan di Candi Induk Penataran pada halaman III yang paling suci ini menampilkan awatara Dewa Wisnu, yaitu tokoh Kresna di dalam cerita Kresnayana dan Rama dalam cerita Ramayana. Selain itu, masih terdapat sebuah cerita asal India, yakni cerita bintarang (fable) atau lazim disebut “Cerita Tantri”, yang berinduk pada himpunan cerita Pancatantra (Tantrikamanaka). Relief ini kedapatan pada Patirthan Dalam, di belakang bawah arca-arca Dwarapala di muka Candi Induk, dan pada bidang membulat (medalion) penutup lobang-lobang ventilasi Candi Naga. Satu lagi relief yang bisa jadi indikator cerita asal India, yaitu pahatan para pendeta tengah membawa genta upacara (ghanta) pada tubuh Candi Naga di halaman ke-2 serta pahatan naga pada pelipit bawah Pendapa Teras I dan II. Pahatan ini berhubungan dengan tema cerita Samodramantana, yang berinduk pada Adaiparwa dalam wiracarita Mahabhaata. Pokok isinya berkenaan dengan air suci (tirtha). Di dalam ritus Hindu ataupun Buddhis, tirtha merupakan kelengkapan yang utama

Adapun relief cerita yang berasal dari Jawa, dan dengan demikian dapat disebut sebagai “cerita orisinal Jawa”, adalah cerita-cerita yang dipahatkan pada Pendapa Teras II Penataran di halaman I – yang kurang sakral apabila dibanding halaman II dan III, antara lain adalah rumpun cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb. Bila cerita Ramayana dan Kresnayana ditokoh oleh manusia dan awatara dewa, sementara cerita Tantri ditokohi oleh binatang yang berperilaku seperti manusia, maka cerita-cerita lokal Jawa di Pendapa Teras II ditokohi oleh manusia biasa. Jika menilik tempat pemahatannya, cerita asal India, khususnya yang menampilkan tokoh dewata, diposisikan di candi utama (induk) yang berada di halaman tersuci (halaman III).

Candi Penataran dapat dimasukkan ke dalam candi bergaya Majapahit. Salah satu cirinya adalah mempunyai pola arsitektur berundak, sebagaimana tampak pada tubuh dan kaki Candi Induk yang berteras tiga, makin ke atas semakin menjorok ke belakang, pada mana tubuh dan atap candi ditempatkan (di atas teras III). Kendati bagian atapnya belum diketemukan, lantaran telah musnah karena terbuat dari bahan yang tak tahan usia, namun diperkirakan memiliki bentuk tumpang (meru). Bangunan serupa ini didapati contohnya pada relief cerita Ramayana sisi utara. Bentuk atap meru banyak didapati pada bangunan suci (pura) di Bali. Demikian juga, pola pembagian halaman atas tiga bagian maupun tata letaknya yang diskonsentris menjadi pola umum dari bangunan pura. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penataran merupakan pola arsitektur sakral yang berpengaruh luas dan dilestarikan di Bali hingga kini dalam bentuk pura. Bahkan, fungsi khusus dari Candi Penataran sebagai media protektorik terhadap gunung berapi aktif bisa dibandingkan dengan fungsi Pura Besakih terhadap Gunung Agung.  

Ciri Majapahitan juga tampak jelas dalam relief dan arca di Candi Penataran. Pada relief cerita Ramayana tampak jelas adanya gaya wayang (lakon), gaya relief yang cukup banyak tampil di percandian masa Majapahit. Relief natarif pada masa Majapahit memiliki dua langgam, yaitu langgam kakawin, dan langgam wayang. Latar pembedanya adalah sumber cerita. Susastra berbentuk kakawin, wawacan dan tutur dijadikan acuan dalam seni pahat bergaya kakawin, sedangkan sastra lakon Mahabarata ataupun Ramayana menjadi acuan untuk seni pahat bergaya wayang.

Ciri Majapahitan juga tampak pada susastra visual yang dipahatkan dalam bentuk relief candi di Candi Penataran. Susastra berbentuk Kidung yang marak berkembang pada masa Majapahit kedapatan tampil di Pendapa Teras II, yang menampilkan cerita orisinal Jawa, seperti cerita-cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb Dengan perkataan lain, pada Candi Penataran terjadi transformasi dari susastra lisan (tutur) ataupun susastra tulis ke dalam susastra visual dalam bentuk relief candi. Fenomena transformatif semacam itu tersirat pula dalam relief cerita Ramayana dan Kresnayana di Candi Induk, yang menyiratkan adanya transformasi dari susastra tulis ke dalam lakon seni pertunjukan (wayang kulit).



Salah satu perbedaan prinsip antara percandian bergaya Jawa Tengahan dan Jawa Timuran adalah pada gaya Jawa Tengahan anasir budaya asal India mempunyai pengaruh sangat kuat ke dalam karya budaya di Masa Hindu-Buddha. Anasir budaya asing itu diadopsi ataupun diadaptasi ke dalam berbagai jenis dan bentuk ekspresi budaya. Adapun pada gaya Jawa Timuran, pengaruh India tidak lagi bepengaruh secara dominan dalam karya budaya. Sebaliknya, anasir budaya lokal Jawa tampak menyeruak, adanya susastra kidung dengan kisah yang berlatar sejarah serta lingkungan alam dan budaya Jawa, menguatnya kultus terhadap arwah nenek moyang yang diperdewa – misalnya kultus kepada Dewa Gunung (Hyang Acalapati), munculnya arsitektur berundak, dsb. Ciri-ciri demikian tampil jelas di Candi Penataran. Oleh karenanya cukup alasan untuk menyatakan bahwa candi ini adalah adalah contoh signifikan dari Javanisasi proses dalam kesenian Hindu-Buddha. Aktifitas, kreatifitas maupun upaya inovatif dari seniman pembangun Candi Penataran diperlihatkan dengan amat jelas. Kesemuanya bisa dijadikan sebagai contoh teladan tentang bagaimana penyikapan pelaku budaya terhadap pengaruh budaya asing, dan komitmennya terhadap anasir budaya asli pada sisi lain.     

* Di olah dari tulisan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum

MENGENAL TUGU DAN MONUMEN DI PURWOREJO



Monumen Jenderal Urip Sumoharjo
Tahukan siapa itu Jenderal Urip Sumoharjo? Yuph beliau adalah Pahlawan Kemerdekaan yang lahir di Kota Purworejo, sebagai warga Purworejo ane bangga, kota kelahiran ane juga menghasilkan Pahlawan Bangsa, nah demi mengenang jasa jasa beliau dalam merebut kemerdekaan, dibangunlah Monumen Jenderal Urip Sumoharjo, dengan pose sedang naik kuda, Monumen ini berlokasi di Ringroad Selatan, Kecamatan Banyuurip, Purworejo.






Tugu Peringatan 5 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
Di depan Rumah Dinas Bupati Purworejo atau sebelah utara Alun-alun Purworejo berdiri sebuah tugu, mungkin banyak warga Purworejo yang belum tahu namanya atau bahkan tidak peduli dengan keberadaan Tugu ini, padahal tugu ini punya cerita sejarahnya Lho, nama tugu ini adalah Tugu Peringatan 5 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Nah tujuan dibangunnya tugu ini adalah untuk memperingati 5 Tahun Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1950. Pada tahun 1996, tugu ini pernah diubah bentuk bagian bawahnya menjadi mirip Tugu Muda Semarang, namun pada tahun 2008 dipugar kembali sesuai bentuk asli tahun 1950.











Tugu Bank Jateng

Tugu Bank Jateng ini merupakan salah satu dari puluhan tugu yang berdiri di Kota Purworejo, tugu ini terletak di pertigaan Jalan Letjen Suprapto dengan Jalan Urip Sumoharjo, atau Sebelah Utara Pasar Suronegaran, tugu ini dibangun dengan tujuan memperindah kota saja, dengan taman yang berada di sekelilingnya.







Tugu Adipura

Walaupun ane asli orang Purworejo dan dah lama hidup di Purworejo akan tetapi ane baru tahu bahwa tugu yang ada di perempatan GOR atau di depan SMAN 6 Purworejo itu adalah tugu adipura. Dulunya ane tahunya ya cuma tugu hiasan biasa aja, ternyata Purworejo pernah meraih adipura lho, bahkan empat kali berturut turut sebagai kota terbersih yaitu Tahun 1994, 1995, 1996, dan 1997. Nah untuk memperingatinya, dibangunlah tugu ini.






Monumen Tentara Pelajar
Merupakan salah satu monumen yang berada di di Kota Purworejo, dan ane baru tahu kalau monumen itu bernama Monumen Tentara Pelajar, dan pasti banyak juga warga Purworejo yang belum tahu, ane dulu tahunya itu ya monumen 412, karena di sebelah timur dari monumen ini ada pangkalan militer 412. hehe. Nah monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para tentara pelajar yang telah merebut kemerdekaan dari penjajah.

Wisata Taman Nasional Pulau Komodo



Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komoda, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam Kayu Sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.


Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn Van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis "New Seven Wonders of Nature" yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com.

Wisata Danau Toba, Sumatera Utara



Dimusim panas, objek wisata Pantai Lumban Silintong yang disambangi banyak keluarga setiap hari Sabtu dan Minggu ramainya luar biasa.Maklum saja, musim panas di bumi Toba Samosir khususnya Balige terbilang panjang, sekitar 9 bulan.Selebihnya musim hujan yang dingin yang “membeku”.

Dari café-café disepanjang Pantai Lumban Silintong, nampak Pelabuhan Balige, Pulau Samosir dan jejeran bukit barisan bahkan nampak Cerobong asap Toba Pulp Lestari di Porsea, Namun kesemuanya itu dapat disaksikan dengan sekali sapuan mata.

Dari jauh tampak kapal-kapal penumpang menujuh pulau Samosir, ada banyak pilihan menikmati Danau Toba dengan mudah dan murah, salah satunya, kunjungi salah satu café-cafe disepanjang pantai Lumban Silintong, duduk santai sembari memesan satu gelas Jus dengan melihat mata telanjang cukup mengeluarkan “koce” sepulu recehan ribuhan, kita dapat mengamati kedahsyatan Danau Toba yang terbentang dengan begitu luas, juga mengasyikkan menikmati keindahan Danau Toba, merupakan kenangan yang tidak terlupakan.



Tampak sejumlah kursi-kursi sebagai tempat bagi pengunjung di cafe Wita, tepi pantai Lumban Silintong, Danau Toba, Balige Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
Oh………Danau Toba istimewah do ho di ahu.

Potensi Wisata Tersimpan Di Pulau Nias



Kepulauan Nias yang terdiri dari satu pulau utama dan sejumlah pulau kecil yang menghadap Samudera Hindia dikenal sebagai salah satu obyek wisata andalan Provinsi Sumatera Utara.
Meskipun tertimpa bencana beberapa kali, untuk mengembalikan kejayaan seperti sedia kala sejumlah pihak telah berupaya membangun Nias dengan berbasiskan nilai-nilai budaya yang kini terancam lenyap.
Pulau Nias, sebagai pulau utama dengan luas 5.500 kilometer persegi, menyimpan sejumlah misteri dan keunikan. Mulai dari kehidupan seharihari di desa tradisional, saujana budaya, hingga peninggalan megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti rumah adat, tradisi lompat batu dan tari perang yang sempat luluh lantak karena gempa tektonik 8,7 SR kini sedang direstorasi.
Dengan berbagai keindahan alamnya, potensi Pariwisata Bahari di Pulau Nias tersebar di hampir sejumlah tempat yang dikenal dengan sebutan 100 pulaunya. Misalnya pantai berpasir putih di Pulau Batu dan Teluk Dalam. Tidak sekedar pantai, wilayah Nias Selatan juga potensial untuk kegiatan wisata air, seperti selam dan selancar yang banyak diminati wisatawan asing.


Sebut saja pantai Sorake yang merupakan surga bagi para peselancar. Pantai ini telah menjadi bagian dari berbagai kegiatan dan kejuaraan tingkat dunia sejak tahun 1993. Ada pula pantai Mo’ale yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya.
Wisata budaya juga tidak kalah menariknya untuk kita kunjungi. Desadesa tradisional di Pulau Nias yang masih menyimpan sejumlah tinggalan budaya dan para penutur sejarah dapat menjadi pilihan utama. Selain menjalankan roda perekonomian, kegiatan pariwisata ini mampu mengembalikan kecintaan akan nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

Goa Selarong, Mengingatkan Kita Akan Perjuangan Pangeran Diponegoro



SIAPA yang tak kenal dengan Pangeran Diponegoro, pejuang berkuda dari tanah Jawa dengan sorban putih dan senjata keris tersebut. Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan tempat keramat yang satu ini, yaitu Goa Selarong.
Pada masa perlawanan Diponegoro terhadap Belanda pada tahun 1825 sampai 1830, Goa Selarong merupakan kunci keberhasilan perjuangan Diponegoro dan pasukannya. Disamping untuk tempat persembunyian, tempat ini juga dijadikan sebagai markas untuk mengatur strategi guna mengusir kompeni dari tanah Jawa.
Letak wilayah Goa Selarong termasuk ke dalam wilayah Dusun Kembang Putihan, Kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Letaknya berada di selatan Kota Gudeg ini, kira-kira berjarak 30 km dari pusat kota atau jika menggunakan perjalanan darat akan memakan waktu sekitar 45 menit lamanya.
Kompleks Goa Selarong terletak di lokasi perbukutan kapur setinggi kurang lebih 35 m yang dipenuhi oleh pepohonan yang labat nan rindang. Letaknya sangatlah curam, kemiringan bisa sekitar 45 derajat. Untuk mencapainya, siapapun orangnya harus meniti ratusan anak tangga sejauh 400 m untuk bisa sampai ke tempat itu.
Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.
Dikatakan oleh Sarimin (75) kepada KRjogja.com, sang juru kunci kompleks Goa Selarong, secara kasat mata memang Goa Selarong tersebut adalah buntu, namun bagi Diponegoro dan para pengikutnya, Goa Selarong merupakan pintu gaib untuk masuk menuju ke dalam perut bukit kapur tersebut.
“Walaupun goa tersebut buntu, namun Pangeran Diponegoro dan pengawalnya bisa menembusnya hingga ke dalam, seolah bisa tinggal berada di dalam bukit tersebut. Jadi, Goa Selarong hanyalah sebagai pintu gaib masuknya saja dan goa yang sebenarnya masih berada jauh di dalamnya,” katanya.
Itulah sebabnya yang membuat mengapa Pangeran Diponegoro dan pasukan setianya akan sangat sulit ditangkap dan sama sekali tidak pernah tersentuh atau sekalipun terlihat oleh mata pasukan Belanda, jika sedang bersembunyi di Goa Selarong ini.
Walaupun pasukan Belanda telah sampai di kompleks tersebut, namun pasukan kompeni tetap saja tidak dapat melihat bahwa sebenarnya terdapat ratusan pasukan Diponegoro bersembunyi di dalam Goa Selarong. Pasukan kompeni hanya berputar-putar di lokasi dan hanya bisa melihat gunungan batu cadas yang tak berpenghuni.


Tak heran jika kemudian untuk memancing seorang Diponegoro agar mau keluar dari Goa Selarong, kompeni Belanda melalui Jendral De Kock harus melakukan politik adu domba dengan cara mengajak berunding Diponegoro di Magelang pada sekitar tahun 1830, untuk kemudian menangkap dan mengasingkannya ke Makasar, Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya di tahun 1855.
Keramatnya kompleks Goa Selarong dengan pintu goa gaibnya yang bernama Goa Selarong ini memang sudah tersohor bagi telinga masyarakat Jawa hingga saat ini. Kompleks ini pun terbilang wingit alias angker, pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, terkadang dari dalam perut Goa Selarong terdengar lantunan gending-gending Jawa yang sedang ditabuh. Ada suaranya, namun tidak ada wujudnya.
Konon diyakini, pada kedua hari tersebut para gaib sedang berkumpul di tempat-temat keramat, termasuk di Goa Selarong ini. Pada saat itulah, dari malam hari sampai subuh tebaran aroma seperti dupa dan kemenyan pasti sangat jelas menyeruak dari Goa Selarong ini.


Pun demikian, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan di Goa Selarong ini, yaitu meminta pesugihan atau meminta nomor togel. “Hal itu yang sangat tidak disukai oleh gaib di Goa Selarong tersebut. Jika itu dilarang, pasti bencana akan menimpa siapa saja yang melanggarnya,” kata kakek 4 cucu ini.
Bencana tersebut bisa langsung terjadi di tempat itu juga, seperti misalnya terpeleset atau terjatuh dari tebing hingga berakibat kematian. Kalaupun tidak di tempat tersebut, dilain tempat bencana itu pasti akan menghampiri. “Kalau mau mencari pesugihan atau mencari nomor, jangan di tempat sini, mending mencari di tempat lain saja,” ingat Sarimin.